Oleh: JAKA PRAKASA
OPINION
Senang bisa kembali berkumpul dengan wajah-wajah familiar dan baru di anjangsana dengar rilisan fisik kemarin.
Terima kasih @naibee_sidepony yang menyediakan waktu dan tempat di @rakata.ruang hingga bisa kembali bersua @yudhivandalism.
Rilisan fisik semakin digemari ya. Tidak perlu lagi pakai kata “konon” karena sudah banyak publikasi yang mengatakan hal yang sama. Berawal dari mengoleksi, sekarang sudah mulai sering membicarakan langkah selanjutnya, preservasi. Gimana merawat kaset. Gimana kalau busa kaset tiba-tiba serong. Gimana menyiasati tape deck maupun compo yang bermasalah. Diskusi kecil yang membuat saya berharap fase “sekedar ikut trend” sudah terlewati.
Beberapa waktu yang lalu saya menyaksikan seseorang membayar hingga 700 ribu untuk menebus 5 album Slank dalam format kaset. Dengan nominal yang sama, Bang @rezha_hardrocker_photoworksmembeli edisi 50th Anniversary “Dark Side of the Moon” langsung dari Jepang.
Lalu? Siapa yang FOMO dan siapa yang rugi disini? Ya gak ada.
Tiap album yang kita beli jelas memiliki makna yang berbeda beda tergantung individunya. Dari nilai value for money jelas album Pink Floyd lebih layak dimiliki. Tapi dari nilai intrinsik dan ikatan emosional, album Slank mungkin lebih bernilai untuk dikoleksi. Sama saja kalau saya disuruh milih boxset Dmasiv full tanda tangan atau kaset Pablo Honey, saya akan pilih Pablo Honey. Karena ya saya tidak punya ikatan apapun dengan Dmasiv.
Para kolektor kampiun harus terus berbagi pengalaman dan pengetahuan mengenai mengoleksi sebagaimana generasi sebelum kita. Jangan sampai anak sekarang terjebak kartel seller culas yang gemar menggoreng harga.
Rilisan fisik, selamanya.