Nasib Restoran Mewah Milik Diaspora Indonesia di Tengah Pandemi di Amerika

Imbas pandemi COVID-19 dirasakan lebih keras pada restoran kelas atas yang mengandalkan pelanggan untuk datang dan menikmati sajian mewah. Dua diaspora Indonesia, pemilik restoran di Amerika, menghadapi imbas tersebut secara berbeda.

VOA — 

Pandemi COVID-19 menghancurkan industri restoran. Padahal, industri tersebut mempekerjakan lebih dari 15 juta karyawan dan diproyeksikan menghasilkan sekitar $899 miliar tahun ini, menurut data National Restaurant Association, asosiasi restoran Amerika.

Yono Purnomo, pemilik dan executive chef di Yono’s restaurant di Albany, New York (courtesy).

Yono Purnomo adalah pemilik sekaligus executive chef di Yono’s, restoran kelas atas di Albany, ibukota negara bagian New York. Ketika negara bagian New York harus menjalani Pembatasan Sosial Berskala Besar, Yono terpaksa menutup restorannya mulai 16 Maret. “Terus saya pikir, kita mau jadi apa nih? Kita nggak bisa to-go karena kita fine-dining kan? To-go gak lucu.”

Yono, koki lulusan NHI Bandung, kemudian mengubah bisnis restorannya menjadi Feed Albany. Bekerja sama dengan para pemilik restoran lainnya, badan amal itu menyediakan makanan kepada warga yang mebutuhkan. Dalam sehari, organisasi nirlaba itu bisa menyiapkan sampai 1.500 porsi. Mereka melakukan itu tiga hari seminggu. Dana operasional didapat dari sumbangan yang berdatangan dari berbagai sumber.

Oscar Setiawan, membuka Rickshaw Republic, restoran Indonesia di Chicago, delapan tahun lalu. Ia menanggapi tantangan semasa pandemi ini secara berbeda. Jumlah pelanggan yang berkurang secara drastis memaksanya menutup restorannya pada awal Juli.

William Wongso, chef dan pakar kuliner Indonesia, mengakui pandemi ini pukulan yang luar biasa keras bagi dunia restoran, dan sangat tidak terduga. Pandemi tidak banyak memberi peluang kepada pengusaha restoran menggunakan kreatifitas dalam industri kuliner.

William Wongso bersama Gordon Ramsay (foto: courtesy).

“Sekarang ini realita. Bukan soal kreatif. Kalau sudah nggak bisa kemana-mana, kembali kalau urusan makanan, orang akan kembali ke comfort food. Dia akan mau makan makanan yang dia familiar, makanan sehari-hari, bukan makanan fancy.”

Sejauh ini, Yono bertahan dengan “Feed Albany.” Walaupun pasrah, ia tetap optimistis. “Ini usaha kita, dan ini adalah our life. Jadi kita harus berusaha dan berdoa.”

Dining Room di Yono’s restaurant di Albany, New York (courtesy).

William Wongso mengingatkan, banyak perubahan yang harus diterapkan dalam bisnis restoran kelas atas. Tetapi ia tidak bisa memperkirakan seperti apa situasinya pasca pandemi. “Prinsipnya, ekonomi harus jalan. Risk tetap ada, tinggal persentasinya masing-masing jaga-jaga.”

Tidak bisa dihindari kenyataan bahwa pandemi akan mengubah total cara orang menikmati makanan di restoran. Namun, yang pasti, keinginan orang menyantap bervariasi makanan tanpa harus repot masak sendiri, tidak akan hilang. [aa/ka]

Recent Posts