Kiprah Diaspora Indonesia di Amerika dalam Promosikan Budaya Bangsa

Leonard Triyono

Domisili boleh jauh di seberang samudera, tetapi rasa cinta pada tanah air tetap membara. Itulah perasaan yang dimiliki banyak diaspora Indonesia di AS. Sebagai pengejawantahan sentimen itu, banyak di antara mereka berusaha mengadakan berbagai aktivitas untuk menanamkan kecintaan budaya Indonesia.

WASHINGTON, DC (VOA) — 

Diaspora di Amerika kini diperkirakan berjumlah sekurangnya 150 ribu orang, menurut data tahun 2021 dari seorang pejabat Kedutaan Besar Republik Indonesia di Washington, DC. Mereka tersebar di seantero Amerika, dari ujung barat negara bagian California hingga ujung timur Virginia, dari ujung utara North Dakota sampai ujung selatan Louisiana, dari ujung barat laut Alaska sampai ujung tenggara Florida, dari ujung timur laut Maine hingga ujung barat daya Arizona.

Di bagian mana pun diaspora Indonesia tinggal, mereka umumnya tidak melupakan berbagai warisan budaya dari tanah air. Banyak di antara mereka yang giat memperkenalkan seni budaya, seperti tari dari Bali, Jawa, Sunda, Minang, Aceh, dan berbagai daerah lainnya. Tidak sedikit juga warga Indonesia yang aktif memperkenalkan seni musik gamelan Bali, gamelan Jawa, degung Sunda, dan angklung.

Diaspora Indonesia juga banyak yang menjadikan kuliner Indonesia yang kaya rupa, rasa, dan warna sebagai sarana usaha, sambil memperkenalkannya ke masyarakat yang lebih luas. Bahkan, seni beladiri pencak silat pun tidak ketinggalan, dengan paguyuban-paguyuban yang menonjol di Washington, DC dan Portland, Oregon. Dan, tentu, batik dan kebaya nusantara termasuk bentuk seni yang sering dipromosikan melalui pameran maupun peragaan.

Oke Kurniawan dari Frisco, Texas dan Nuri Auger dari Baltimore, Maryland hanyalah contoh anggota diaspora Indonesia yang giat mempromosikan budaya Indonesia di Amerika.

Oke Kurniawan, Presiden KMI/IDN Dallas-Fort Worth berpose bersama Doc Dority, pendiri Pencak Silat Dallas, bersama istrinya.

Oke Kurniawan bersama keluarganya telah bermukim di kota Frisco, di pinggiran kota kembar Dallas-Fort Worth, Texas, sejak tahun 2012. Di sela-sela kesibukan urusan pekerjaan, pria yang bekerja di bidang telekomunikasi ini tidak ragu untuk langsung menerjunkan diri dalam berbagai kegiatan masyarakat Indonesia di wilayah Dallas-Fort Worth sejak kedatangannya, terutama yang berada di bawah payung Kerukunan Masyarakat Indonesia (KMI).

Berawal dari tugas membantu di KMI, setelah pergantian kepengurusan yang bermasa tugas dua tahun, Oke langsung ikut terpilih menjadi wakil ketua organisasi payung bagi semua kegiatan diaspora di sana, misalnya pengajian, kebaktian, bazar, pameran, dan pentas seni Indonesia.

“Jadi 2012, waktu itu kepemimpinan KMI D-FW (Dallas-Fort Worth) dipegang oleh senior saya Donny Tigor dan saya sempat membantunya. Lalu setelah Donny Tigor, maju successor (penerus) Nancy Lopez dan saya menjadi wakilnya.”

Sejak 2019 hingga kini, Oke menjabat sebagai presiden KMI sekaligus Jaringan Diaspora Indonesia (Indonesian Diaspora Network/IDN) untuk wilayah D-FW.

“Pas zamannya Pak Dino (Dr. Dino Patti Djalal.red) sebagai Dubes yang menginisiasi IDN, akhirnya dibuatkan juga IDN Cabang D-FW dan kepengurusan KMI merangkap kepengurusan IDN. Jadi, saat ini saya dan pengurus merangkap sebagai officer di KMI dan juga di IDN D-FW,” ujarnya.

Di bawah kepengurusannya, Oke meneruskan berbagai kegiatan dan aspirasi para pendahulunya, terutama dalam memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat yang lebih luas.

Sebagai contoh, pada 16-18 September lalu KMI yang dipimpinnya menyelenggarakan Indonesian Cultural Fest 2022 (Festival Budaya Indonesia 2022), bekerja sama dengan University of Texas Dallas (UTD) dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Houston.

Festival selama tiga hari itu diadakan di Crow Museum dan Kampus UTD dengan berbagai acara, mulai dari seminar internasional hingga peragaan busana batik sampai pentas tari dan musik tradisional Indonesia.

Acara seminar internasional yang diadakan pada hari pertama mengulas perkembangan sosial-budaya, politik, dan ekonomi di Indonesia dengan melibatkan UTD dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta KJRI Houston.

Acara ini terutama dihadiri oleh undangan yang memiliki minat pada Indonesia serta kalangan civitas academica UTD. Universitas dengan jumlah mahasiswa hampir 30 ribu dari 100 negara lebih ini kebetulan kini sedang merintis Pusat Studi Asia yang di dalamnya termasuk Indonesia.

Salah satu acara yang paling menarik minat warga setempat adalah pameran batik, lokakarya dan demonstrasi pembuatan batik, serta peragaan busana batik dari kolektor dan desainer Debbie Margaretha, yang adalah anggota diaspora Indonesia di Dallas. Pameran, workshop dan peragaan batik tentu animonya besar, kata Oke. Bahkan, tambahnya, untuk peragaan busana batik, panitia terpaksa tidak bisa mengakomodasi semua peminat.

“Batik itu salah satu ikon kita dan batik exhibition dan workshop itu antusiasme dari (orang) lokal, dari orang Amerika itu cukup tinggi, dan kemarin ramai. Jadi, kami itu sebenarnya agak kewalahan. Jadi, kami tidak bisa open to public (terbuka untuk umum) pas fashion show (peragaan busana) karena room capacity (kapasitas ruangan).”

Festival ditutup dengan pertunjukan budaya Indonesia, termasuk tarian-tarian tradisional, musik tradisional (anklung), dan demonstrasi pencak silat, yang semuanya dipentaskan oleh anggota diaspora Indonesia di Dallas dan staf KJRI Houston.

Seakan belum puas dengan pertunjukan budaya Indonesia, Oke mengatakan bahwa pada Sabtu (15/10) kemarin KMI/IDN Dallas-Fort Worth juga diminta untuk menampilkan musik angklung di konser An International Expression of Music and Dance (pentas musik dan tari internasional) di kampus Tarrant County College di Fort Worth, Texas.

Oke Kurniawan mengatakan dalam upaya mempromosikan Indonesia, dia dan anggota pengurus KMI/IDN selalu mengusahakan kerja sama dengan pemerintah daerah setempat serta mengundang pejabat dan tokoh setempat.

“Kemarin pun ada politisi yang datang, mantan mayor (wali kota) Farmers Branch, ada dari Senat, ada dari warga lokal. Jadi benar-benar sangat diverse (beragam).”

Sementara itu, di pantai timur Amerika, tepatnya di kota Baltimore, Maryland, seorang anggota diaspora Indonesia juga menekuni upaya pelestarian sekaligus promosi salah satu warisan budaya khas Indonesia, kain kebaya. Dia adalah Nuri Auger, perempuan asal Ranah Minang yang telah lama bermukim di Amerika.

Nuri memiliki pengalaman membuat kebaya dan dilatih oleh anggota keluarga lain di desanya di Ranah Minang dengan menggunakan keterampilan yang sama yang mereka pelajari dari nenek moyang. Kini bermukim di Baltimore, Maryland, Auger mendapat julukan sebagai pembuat kebaya master yang mempertahankan hasrat yang kuat dan kecintaan pada tradisi tekstil khas Indonesia yang elegan dan klasik itu.

Nuri Auger bersama para peserta peragaan kain kebaya di Littleton, Massachusetts, 2020

“Kebaya itu cantik. Kebaya itu warisan leluhur kita yang tak boleh dilupakan dan juga diganti. Saya sangat bangga bisa meneruskannya. Saya ingin banyak orang mengerti akan kebaya. Jadi tak terbatas, tapi terutama warga Indonesia.”

Bagaikan pepatah “pucuk dicita, ulam tiba,” Nuri kini juga menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah tempat tinggalnya setelah dia secara tidak sengaja melihat unggahan seseorang di Facebook yang menyatakan keinginan untuk belajar membuat kebaya.

“Tahun 2019 saya membaca postingan di FB group, salah seorang anggota memcari orang yang bisa mengajar dia untuk membuat kebaya. Dia tinggal di Baltimore di mana saya tinggal, dan ayahnya American (orang Amerika) dan ibunya (orang) Indonesia. Dengan spontan saya mejawab bahwa saya bersedia untuk membagikan ilmu saya untuk mengajar membuat kebaya,” tuturnya.

Lulusan Futura Fashion Designer di Jakarta pada tahun 1991 ini kemudian bertemu dengan peminat tersebut. Stacy, namanya, kemudian mempunyai ide untuk mengajukan permohonan bantuan hibah dari Dewan Kesenian Negara Bagian Maryland (Maryland State Arts council/MSAC). “Permohonan kami diterima. Saya mendapat $4.000 untuk program apprenticeship (magang) ini. Setiap tahun, MSAC pun memberinya hibah untuk mengikuti Folklife Traditional Arts,” ujarnya.

“Saya mendapatkan undangan untuk hadir di Traditional Folk Festival (Festival Rakyat Tradisional) di Salisbury Maryland. Pengunjung tertarik sekali dengan warna-warni kecantikan kebaya yang sudah dikombinasikan dengan bermacam corak kain traditional khas tanah air kita. Seluruh biaya saya dan dua asisten saya (untuk menginap) dua malam di hotel, makan, uang bensin dan uang saku mereka sediakan.”

Kini, Nuri telah mendapat tawaran hibah dari Dewan Kesenian Negara Bagian Maryland sebesar $5.000 per enam bulan atau $10.000 per tahun untuk membimbing satu siswa untuk membuat kebaya. Kepada VOA, Nuri menyampaikan kerinduannya akan budaya mengenakan kebaya.

“Semoga semakin banyak perempuan memakai kebaya. Sesungguhnya kebaya dapat dipakai setiap saat. Saya ingin mempunyai studio kecil. Impian yang tinggi saya ingin membuat Museum Kebaya di Amerika.”

Kebaya dengan kain tenun dam sulaman Bali, hasil karya Nuri Auger

Dalam mempromosikan kebaya, Nuri tidak hanya berkiprah di negara bagian tempat tinggalnya, tetapi juga merambah sampai di Washington, D.C., dan negara bagian New Hampshire di mana kebaya rancangannya diperagakan.

Nuri mengaku bahwa karena cintanya pada Indonesia, pada tahun 2015 dia dan beberapa temannya di New England mendirikan organisasi nirlaba bernama Indonesian Three Magnolias dengan misi untuk menolong keluarga-keluarga yang tidak mampu di tanah air untuk mendapatkan ilmu secara gratis. Yayasan itu memiliki semboyan Women and children Education for a better life (Pendidikan perempuan dan anak-anak demi kehidupan yang lebih baik). [lt/em]

Recent Posts