Bandara Kertajati dibangun megah dengan biaya Rp2,6 triliun dan digadang jadi bandara terbesar kedua di Indonesia. Tapi realitasnya jauh dari harapan: pada 2024 hanya mencatat 413 ribu penumpang, atau 3% dari target 12 juta per tahun. Kini, penerbangan yang tersisa hanya dua kali seminggu dengan rute Majalengka–Kuala Lumpur.
Pengelolaan yang kurang kompeten dan lokasi yang tidak strategis disebut jadi penyebab utama sepinya bandara ini. Seperti kata AHY, “Bagus, besar, megah, tapi in the middle of nowhere.”
Menurut Anda, Kertajati masih bisa diselamatkan, atau sejak awal memang salah konsep?