Kakak-Beradik asal Surabaya Tawarkan Es Krim Cita Rasa Asia di New York, Sempat Viral di TikTok

Naras Prameswari

Dari hobi membuat es krim saat pandemi, kakak-beradik asal Surabaya Elizabeth ‘Liz’ Margaretha and Debbie Tanudirjo kini merintis bisnis kecil di kota New York, Amerika Serikat.

Sundae Service Creamery, usaha kecil menengah milik Liz dan Debbie, menawarkan es krim dengan cita rasa yang terinspirasi dessert khas Indonesia dan Asia.

Contohnya, ‘Pandan Coconut’ yang terinspirasi es puter, ‘Pinapple Cookie’ dari nastar dan kukis nanas Taiwan, dan ‘Ginger Black Sesame’ dari tangyuan.

“Waktu kecil, kami suka banget es puter,” ujar Liz yang menjabat sebagai co-founder dan CFO.

“Waktu itu kami mau buat pilihan rasa yang vegan … Ketemu bahwa es puter nggak pakai produk susu (sapi), karena pakai santan,” lanjutnya. “Jadi pas banget. Itu salah satu jajanan favorit kami dan juga nggak pakai produk susu dan vegan.”

Sejumlah pelanggan tinggalkan review produk yang katakan rasa ice cream Sundae Service Creamery mirip dengan jajanan di Asia atau jajanan masa kecil mereka.

“Ini buat kami senang, karena itulah alasan kami buat ice cream ini,” kata Debbie, yang menjabat sebagai co-founder, CEO dan mengurus marketing.

“Kami sendiri kangen rumah waktu pandemi, dan kami mikir orang-orang lain pasti banyak yang kangen rumah juga.”

Selain cita rasa Asia, Sundae Service Creamery juga punya rasa ‘Earl Grey Strawberry Cheesecake’ – yang menjadi rasa paling populer mereka.

Masuk Toko di New York

Produk Sundae Service Creamery kini dijual di toko retail, kebanyakan toko Asia, di sekitar kota New York.

Satu pint ice cream diberi harga sekitar $10-$12 atau sekitar Rp142.000 hingga Rp170.000.

“Bisa masuk toko rasanya luar biasa sekali,” ujar Debbie. “Karena pada awalnya kita sama sekali nggak berniat buat bisnis. Jadi bisa melihat kemajuan sejauh ini dalam satu setengah tahun, rasanya memuaskan.”

“Dulu (pelanggan kami) cuma di lingkungan teman,” tambah Liz.

“Waktu kami mulai dapat pelanggan yang tidak kami kenal pribadi, itu momen di mana saya seperti, ‘Wow, orang-orang beneran beli produk kami.'”

Beroperasi Dari Belahan Dunia Berbeda

Bisnis es krim ini berada di kota New York, namun juga beroperasi via Indonesia.

Liz kini tinggal di Surabaya, sementara Debbie bekerja penuh waktu di New York.

“Liz banyak membantu keuangan kami, dan untungnya itu bisa dilakukan jarak jauh,” kata Debbie.

Mereka juga mengaku keputusan memproduksi es krim lewat pabrik dan menjual produk di toko, membantu operasi bisnis mereka.

“(Sebelumnya,) di minggu-minggu sibuk, kami bisa bekerja sampai pukul 1 atau 2 pagi,” kata Debbie, mengingat waktu mereka memproduksi es krim dari rumah.

“Sekarang secara fisik lebih mudah, saya nggak perlu lagi delivery, tidak perlu buat es krim sendirian.”

Perjalanan Tak Selalu Mulus

Saat mulai produksi skala besar, kedua alumni New York University ini menghadapi sejumlah rintangan – dari kesulitan dapat komponen es krim hingga kesalahan ejaan di bungkus.

“Ada selai stroberi yang ingin saya pakai,” kata Debbie. “Tapi ternyata kami pesannya dari website palsu, jadi barangnya nggak pernah datang.”

Liz juga tambahkan, di hari mereka seharusnya terima produk akhir es krim dari pabrik, supir delivery mereka terlibat kecelakaan.

“Waktu menuju apartemen Debbie, saya dapat pesan dari dia,” kata Liz. “Dia bilang, ‘Coba cek bungkusnya, kayaknya ada typo (salah ejaan).'”

Dalam desain bungkus es krim yang sudah jadi, kata “cheesecake” salah dieja menjadi “cheeseecake.” Namun, mereka sudah terima produk finalnya.

Viral di TikTok

Kesalahaan ejaaan itu pun mereka jadikan konten untuk TikTok, yang kini telah mendapatkan lebih dari 1,9 juta views.

Netizen sampaikan dukungan mereka, bahkan tidak sedikit yang katakan seharusnya typo tersebut menjadi kekhasan brand mereka.

“Saya kira itu seperti berkat yang terlambat. Karena TikToknya viral, dan membuat orang-orang jadi kenal kami,” kata Debbie. “Selain itu, itu jadi pelajaran buat kami. Terutama buat saya untuk benar-benar pastikan dan cross check semua proyek saya.”

“Selain itu, ini membuat kami sadar. Terkadang kalau kita melakukan kesalahan, mungkin bagi kami rasanya sangat buruk sekali. Tapi ternyata di mata orang lain tidak melihatnya seperti itu,” tambah Liz.

“Jadi ini buat kami sedikit lega.”

Karena tidak ingin menyia-nyiakan produk, Liz dan Debbie tetap menjual produk dengan typo tersebut dengan diskon 50%.

Harapkan ‘Pondasi Kokoh’ di New York

Menurut Liz dan Debbie, tidak sulit mengenalkan ice cream cita rasa Asia kepada masyarakat New York.

“Ada populasi warga Amerika keturunan Asia yang besar di New York,” kata Debbie.

“Orang-orang di New York juga lebih terbuka mencoba rasa baru, karena New York sendiri punya banyak dan beragam pilihan kuliner.”

Liz dan Debbie berharap punya pondasi kokoh di pasar kota New York untuk setahun ke depan, dan suatu saat bisa masuk toko supermarket besar di Amerika Serikat.

“Kami juga sedang berusaha bisa masuk ke aplikasi antar makanan,” tambah Liz. “Jadi itu salah satu hal yang sedang kami usahakan.” [np/dw]

Recent Posts