Gordon Ramsay di Sumbar: Blusukan, Kena Kotoran Kerbau, hingga ‘Tersiksa’ Makan Durian

Petualangan koki selebriti, Gordon Ramsay, dalam mempelajari kuliner Sumatra Barat di acara “Uncharted” menjadi perbincangan akhir-akhir ini. Simak cerita koki legendaris William Wongso dan penulis kuliner Ade Putri yang menemani Gordon blusukan di SumBar, masak rendang, dan makan durian.WASHINGTON, D.C. — 

Bagi masyarakat Indonesia adalah suatu kebanggaan tersendiri ketika melihat keindahan alam Sumatra Barat, yang kaya akan budaya, ditampilkan pada layar kaca oleh National Geographic. 

Stasiun televisi internasional itu memilih provinsi tersebut untuk menjadi lokasi syuting “Uncharted,” acara yang mengulik kearifan lokal makanan suatu negara.

Dibawakan oleh koki selebritas asal Inggris, Gordon Ramsay, yang terkenal sebagai koki yang galak dalam acara televisi “Hell’s Kitchen,” “Uncharted” edisi Sumatra Barat dimulai dengan menyorot tradisi Makan Bajamba atau makan bersama ala Minangkabau, bersama masyarakat Tanah Datar.

Persiapan acara Makan Bajamba di Sumatra Utara (dok: William Wongso)

Gordon yang hadir di acara tersebut terlihat mencari-cari sosok William Wongso, koki sekaligus pakar kuliner legendaris Indonesia, yang tengah berjalan memasuki Istana Pagaruyung. 

William pun langsung menyambut Gordon dengan hangat. Ia bahkan membawa pakaian adat Minang lengkap khusus untuk Gordon. Ia lalu mengajak Gordon mencicipi beberapa jenis masakan yang berhasil membuatnya kepedasan, termasuk rendang yang menjadi fokus acara tersebut.

Acara Makan Bajamba yang ikut dihadiri oleh Chef William Wongso dan Chef Gordon Ramsay (dok: William Wongso)

Gordon lalu diberi misi yang unik, yaitu belajar masak rendang secara tradisional. Ia juga menerima tantangan William untuk menyuguhkan masakan khas Minangkabau itu kepada Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno, dan keluarga.

William kemudian menjadi mentor yang mengajarkan Gordon cara memasak satu dari sekitar 200 varian rendang yang terdapat di Indonesia. Dalam acara itu, Gordon memasak rendang versinya sendiri, menyuguhkannya kepada gubernur dan keluarga yang lalu menguji kelezatan hasil masakannya.

Usulkan Sumatera Barat

Terwujudnya acara tersebut berawal pada September 2019, ketika National Geographic menghubungi William Wongso. Mereka memberitahu William mengenai rencana syuting di Indonesia, sebagai salah satu negara yang akan mereka kunjungi di antara Tasmania dan India.

“Tapi 17.000 kepulauan ini, kita harus pilih yang mana?” cerita William Wongso saat diwawancara VOA melalui Zoom.

Untuk acara sebesar itu, dengan yakin Wongso mengajukan Sumatera Barat. Menurutnya, Indonesia harus memberikan suatu kejutan kepada dunia internasional.

“Warnanya bagus banget. Cantik banget. Jadi, saya kirim semua data dan aktivitas budaya. Bajamba terutama. Saya mau (menekankan) mengenai tradisi Bajamba di Sumatera Barat,” jelas Wongso, pakar kuliner yang lahir di Malang pada 1947.

Alasan lain mengapa William memilih Sumatera Barat adalah karena masakan Minang sudah terkenal hingga ke seluruh nusantara. Bahkan, rendang sudah dikenal masyarakat dunia.

Dalam waktu dua minggu, National Geographic langsung setuju dan menyampaikan keinginan mewawancarai William lebih dalam mengenai Sumatera Barat. Pada Oktober, tim dari National Geographic, termasuk produser eksekutif “Uncharted,” Jon Kroll, datang ke Sumatera Barat untuk mengecek lokasi dan bertemu William. 

“Saya terbang ke Sumatera Barat, bertemu mereka, sekalian memperkenalkan kepada Gubernur (Irwan.red). Kebetulan Gubernur, teman lama,” kata pria berusia 73 tahun ini.

“Januari, persis Indonesia belum kedengaran Covid, mereka datang. Syuting tanggal 19 sampai 22 Januari, tapi production team-nya, kira-kira 20 orang, bertahap bersama tim saya sudah masuk ke Sumatera Barat dua minggu sebelumnya,” tambahnya.

Gunakan Tungku dan Arang

Ini memang bukan pertama kali Gordon Ramsay mencicipi dan memasak rendang. Menurut William, koki Inggris kelahiran 1966 itu pernah mempelajari cara memasak rendang khas Malaysia. 

Dalam “Uncharted” edisi Sumatra Barat, Gordon blusukan ke pasar tradisional untuk mencari sekitar 12 rempah yang akan ia gunakan untuk memasak rendang. Ia pun rela mengulek sendiri rempah-rempah yang ia beli di pasar. Bahkan sampai meminjam kompor pedagang di pasar itu, untuk mulai memasak bumbu.

Seorang pedagang di pasar (tengah) meminjamkan dapur dan kompornya kepada Gordon Ramsay agar ia bisa memasak rendang (dok: National Geographic/Ed Wray)

Ketika memasak untuk Gubernur Sumatera Barat dan keluarganya, Gordon menggunakan tungku dan arang, yang menurut William “sesuai dengan kaidah tempat masing-masing.” Inilah yang menjadi salah satu keunikan acara televisi“Uncharted.” 

William mengapresiasi keseriusan Gordon Ramsay untuk mengetahui secara detil cara memasak rendang di tempat asalnya.

“Jadi memang dalam cerita, dia datang ke Indonesia mau bertemu dengan saya, untuk mengetahui salah satu (nya) terutama, seluk-beluk ‘bagaimana sih rendang itu sebagai makanan kebanggaan Sumatera Barat?’” kata pria yang mempelajari teknik kuliner hingga ke berbagai negara, termasuk Australia, Belanda, Italia, Jerman, dan Prancis.

“Siapa tahu dia akan menggunakan beberapa elemen rendang itu, mungkin rasa dan bumbu, diaplikasikan dalam masakan di restorannya di London,” lanjut William.

Chef William Wongso dan Chef Gordon Ramsay saat syuting

Keduanya lalu memasak beberapa jenis masakan berbeda, sesuai interpretasi masing-masing, termasuk rendang tradisional. Namun, untuk rendang, Gordon Ramsay “berusaha memasak secara otentik.”

“Nanti dibandingkan dengan (rendang buatan) saya, disajikan ke bapak Gubernur dan keluarga,” ujar William Wongso.

Nggak Takut Kotor’

Penggemar Gordon Ramsay tentu ingat sosoknya sebagai koki yang galak dan sangar dalam acara televisi “Hell’s Kitchen.” Namun, siapa yang menyangka, ternyata ia adalah sosok yang menurut William Wongso “senang bercanda.”

“Pokoknya aktif banget orangnya,” ujar William Wongso.

Satu hal yang paling berkesan bagi William Wongso adalah ketika ia dan Gordon Ramsay menghadiri acara Makan Bajamba di istana Pagaruyung.

“Ini lucu banget. Lucu banget,” kata William Wongso sambil tertawa. 

“Istana Pagaruyung kan tinggi banget. Terus setelah kita berdua meninggalkan tempat itu, terus dia berbisik kepada saya, ‘William, are you 73?’ Saya diam sejenak. Saat itu saya merasa tua banget gitu, karena tahu-tahu tangan saya dipegang. ‘Let me hold your arm to walk down the steps’(red: ‘Mari saya pegang lengan Anda untuk turun tangga’) Jadi, saya dituntun, turun tangga, karena dia bilang saya 73. Human-nya itu, menurut saya, saya appreciate banget, bahwa bagaimana pun juga dia manusia,” lanjut William Wongso.

Menurut William, memang sosok koki galak dan sangar yang digambarkan dalam “Hell’s Kitchen” hanyalah tayangan, yang “membuat satu image yang agak negatif.” Namun, sebagai pakar kuliner kelas internasional yang turun langsung ke berbagai daerah dan mempelajari kearifan lokal berbagai makanan, William mengatakan, Gordon “sangat menghormati kebudayaan makanan masing-masing tempat yang dia nggak pernah kenal sama sekali.”

William juga memuji Gordon karena “orangnya nggak takut kotor dan benar-benar meleburkan diri ke dalam kebudayaan masing-masing daerah yang ia kunjungi.

“Waktu dia harus memerah susu kerbau yang kerbau (nya) terlalu pendek buat ukurannya, dia jongkok aja susah. Akhirnya, itu kotoran kerbau semua terempas ke badannya. Dia nggak ada risihnya sama sekali dan dia biasa. Dia bisa guling-guling di rumput yang basah. Mungkin saya malah yang nggak terlalu bisa begitu,” jelas William.

Dalam episode ini juga diperlihatkan bagaimana Gordon rela masuk lumpur untuk mengikuti balap sapi tradisional, Pacu Jawi, di Tanah Datar, untuk mendapatkan daging sapi yang enak.

Tersiksa Makan Durian

Satu hal yang menjadi perbincangan hangat di media sosial dari “Uncharted” adalah adegan dimana Gordon Ramsay mencoba durian. Ade Putri Paramadita, pemandu Gordon di Indonesia, berupaya meyakinkan Gordon, yang awalnya tampak enggan, untuk mencoba buah khas Asia Tenggara tersebut.

“Dari awal dia sudah nampak ada penolakan. Aku bilang, ‘Kamu harus coba. Ini beda. Ini durian Sumatera’,” cerita Ade kepada VOA.

Penulis kuliner, Ade Putri Paramadita dan Gordon Ramsay saat makan durian di Sumatra Barat (dok: National Geographic/Justin Mandel)

Menurut Ade, Gordon justru lebih tertarik pada Lemang dan Aia Kawa yang juga disajikan bersama durian. 

Aia Kawa adalah minuman teh yang terbuat dari daun kopi khas Sumatera Barat, sedangkan Lemang adalah beras ketan yang dimasak dalam ruas bambu. Ade mengisahkan ia perlu berupaya lebih keras untuk meyakinkan Gordon supaya berani mencicipi durian.

“Cukup tersiksa kayaknya sih dia,” ungkap Ade sambil tertawa. Sudah terlihat “cukup tersiksa,” ternyata Gordon kembali disodorkan durian oleh William Wongso.

“Waktu kita masak bareng, saya dikirimi durian. Saya taruh satu durian di meja dia. Dia langsung bilang, ‘William, tolong just take it away,’ cerita William Wongso sambil tertawa mengingatnya.

Nggak tahan banget dengan bau durian gitu. Aku nggak bisa kebayang lagi kalau dia (mencium) bau tempoyak,” lanjutnya sambil tertawa.

Tempoyak adalah daging buah durian yang difermentasi.

Ade Putri Belajar Budaya Baru

Ade mengaku semua proses rekaman tidak melibatkan arahan naskah sama sekali. Proses pengambilan gambar dilakukan secara natural dengan kamera yang terus merekam obrolan Ade dan Gordon. 

Ade, yang memang hobi bertualang dan mencicipi berbagai penganan nusantara, mengaku awalnya agak khawatir Gordon akan melontarkan pertanyaan-pertanyaan tak terduga.

“Aku sebagai orang Indonesia harus jalan ke pelosok Sumatera Barat. Ternyata, aku sendiri baru tahu, ada beberapa budaya yang seperti ini di Sumatera Barat,” ujarnya.

Produser eksekutif

Total, Ade menghabiskan waktu 12 hari di Sumatera Barat. Selama lima hari, Ade menjadi “supir pribadi” Gordon’ ke berbagai tempat di Bukit Tinggi, Sungai Jambu, hingga Istana Pagaruyung.

Selama belasan tahun Ade Putri Paramadita melakoni profesi sebagai Road Managerband-band, yang rutin melakukan tur dan konser di berbagai kota.

“Sebenarnya itu numpang aja, supaya (saya) bisa diajak jalan-jalan ke luar kota tanpa harus bayar tiket, dan bisa icip-icip makanan di manapun dan jalan-jalan ke pasar,” ujarnya.

Memperkenalkan Masakan Indonesia

Menjadi pemandu tokoh kuliner besar seperti Gordon Ramsay, bagi Ade, adalah kesempatan besar untuk memperkenalkan Indonesia, utamanya melalui kuliner. Dengan antusias Ade bercerita kepada VOA bahwa ia sangat berhasrat untuk memperkenalkan Indonesia kepada dunia melalui program produksi National Geographic ini.

“Bahkan ketika ke hutan pun, aku kasih lihat dia bunga putri malu dan dia tercengang gitu. Meski ngga ditayangin, bisa pamer seperti itu rasanya bangga sekali,” tutur Ade.

Suasana syuting acara televisi

Ade berharap, pertemuannya dengan Gordon Ramsay bisa menjadi pintu pembuka agar dunia bisa lebih menyorot Indonesia. Ia mengatakan ingin sekali mengajak Gordon blusukan ke kota dan desa di daerah Jawa yang bahkan belum banyak diketahui masyarakat pulau Jawa sendiri.

“Aku yakin orang-orang, utamanya di Jakarta, belum tahu masakan-masakan ndeso yang menarik dan punya cerita panjang di belakangnya,” ucap Ade.

Perempuan yang mulai menulis soal kuliner nusantara sejak 2002 ini berpesan agar masyarakat Indonesia bisa turut menghargai dan mempromosikan makanan-makanan Indonesia. Menyaksikan koki kelas dunia terkesima akan makanan Indonesia yang kaya rasa, membuat Ade semakin semangat mengangkat kuliner nusantara agar bisa dikenal lebih luas.

“Kita harus ingat, kita tinggal di Indonesia dengan berbagai makanan ini. Berarti, harusnya, kita yang bisa mengangkat makanan ini ke luar. Bukan cuma rendang, tetapi juga berbagai makanan Indonesia lainnya,” papar Ade.

Chef William Wongso (kanan) bersama tim

Seperti Ade, William Wongso yang sering melakukan diplomasi kuliner Indonesia ke berbagai negara, berharap agar kesempatan menampilkan kebudayaan dan kuliner Indonesia lewat tayangan seperti “Uncharted”, akan ada lagi di kemudian hari.

“Ini sebagai pancingan. Dengan interest ini, moga-moga nanti ada lagi daerah-daerah lain yang dibuat program yang sama. Indonesia terlalu kaya untuk hal ini. Sayang kalau nggak di explore,” kata Wongso. [di/rw/ka]

Recent Posts