Jom Kenali Gadis Internasional.
Semuanya berawal dari kamar tidur dan satu buah gitar akustik. Lewat platform MySpace, Yuna mulai iseng unggah rekaman suaranya yang khas. Tanpa polesan studio, lagu-lagu seperti “Dan Sebenarnya” berhasil meletup dan bikin skena musik indie Malaysia heboh.
Yuna berhasil buktiin musisi Asia Tenggara bisa punya panggung di level internasional tanpa harus kehilangan jati diri meninggalkan karakter yang telah ia ciptakan.
Memang Syok Layan Vibe
Sebelum terbang ke Los Angeles, Yunalis Mat Zara’ai adalah mahasiswa hukum yang menghabiskan waktunya di antara tumpukan buku dan petikan gitar. Meskipun sudah mulai menulis lagu sejak usia 14 tahun, dia tetap berkomitmen menyelesaikan gelarnya di UiTM. Musik awalnya hanyalah pelarian kreatif di sela-sela jadwal kuliah yang padat.
Keseimbangan antara logika hukum dan rasa seni inilah yang akhirnya membentuk karakter Yuna menjadi musisi yang cerdas dalam menulis lirik dan mengelola karirnya.
Tak Sangka Sampai LA.
Nekat pindah ke Amerika di tengah karir mencapai puncak bukan perkara gampang. Tapi Yuna berhasil membuktikan kalau dia bukan sekadar “pendatang” di Los Angeles. Lewat tangan dingin Pharrell Williams, yang merekrut Yuna ke Fader Label miliknya, Yuna beradaptasi dengan sound R&B dan soul, memperluas cakupan eksplorasi nada irama.
Tidak main-main, Yuna juga sukses berkolaborasi dengan deretan musisi kaliber unggul lintas genre seperti Usher, Tyler, The Creator, Jhené Aiko, hingga G-Eazy.
Memang Kalau Dah Rezeki Takkan Kemana.
Perjalanan Yuna di US itu dinamis banget. Setelah sukses buka jalan bareng Fader Label, kualitasnya makin dilirik hingga akhirnya dipinang oleh Verve Records, label legendaris yang juga menaungi musisi jazz papan atas. Di sini, eksplorasinya makin gila. Albumnya yang bertajuk Chapters sukses masuk ke Top 10 Billboard Best R&B Albums, sebuah pencapaian yang jarang banget bisa diraih musisi Asia Tenggara.
Salah satu momen paling ikonik adalah pas dia rekaman bareng Usher untuk lagu “Crush”. Usher sendiri bilang kalau dia ngefans berat sama suara Yuna. Belum lagi pengakuan dari media besar kayak The New York Times dan Rolling Stone yang mengapresiasi Yuna.
Dari yang awalnya cuma tampil di panggung kecil, Yuna akhirnya bisa manggung di festival besar kayak Lollapalooza dan wajahnya nampang besar di papan iklan Times Square, New York. Dia ngebuktiin kalau musisi dengan identitas kuat tetap bisa punya tempat di puncak industri dunia.
Kini Bebas Pilih Jalan.
Setelah lama berkompromi dengan label besar, Yuna kembali ambil keputusan besar seperti di awal karirnya, kali ini dengan menjajaki jalur independen lewat labelnya sendiri, Yuna Room Records. Dia merasa sudah waktunya punya kendali penuh atas musiknya sendiri, tanpa harus disetir target pasar.
Soal Grammy, Yuna sempat jujur kalau dia memang berharap album Chapters masuk nominasi, dan rasa kecewa itu pasti ada—wajar banget, kan? Tapi dari momen tersebut, pelajaran penting ia dapatkan mengenai validasi.
Sekarang dia lebih sering balik ke Malaysia buat lebih dekat sama keluarga dan kembali “pulang” ke akar musiknya. Menulis kembali lagu-lagu dalam Bahasa Malaysia menjadi katarsis bagi Yuna.
Tak Putus Rilis Lagu Padu!
Yuna emang tipikal musisi yang gak bisa diam. Dari zaman petikan gitar akustik sampai ke era eksplorasinya di ranah R&B yang vibe-nya dapet banget, koleksi karyanya beneran kelas dunia.
Cek saja daftar ini:
Album & EP Pilihan:
Demo (2008) & Masih Yuna (2023): Dari awal karir sampai akhirnya balik lagi ke akar lagu Melayu.
Chapters (2016): Album paling pecah yang sukses masuk Top 10 Billboard R&B Amerika!
Y5 (2022) & Wasting Away EP (2024): Bukti kalau jadi artis independen pun, Yuna tetap produktif.
Kolaborasi Skala Global:
“Crush” feat. Usher: Lagu wajib yang bikin nama Yuna makin berkibar di pentas global.
“Castaway” feat. Tyler, The Creator: Bukti kalau Yuna juga dinotice di circle Hip-Hop/Alternative US.
“Forever” (2024) feat. Diplo & HUGEL: Proyek dengan dua nama besar dari skena elektronik, nunjukin sisi eksplorasi Yuna ke musik yang lebih dance-able.
Kolaborasi Serantau:
“Watak Utama” (2024) feat. BCL: Gandingan dua diva dari Malaysia dan Indonesia yang pas banget di kuping rakyat serumpun.
Memang Tak Boleh Tak Dengar! Best Gilak!
Kenapa sih Yuna wajib masuk ke playlist Bujang Dare? Jawabannya simpel: Karena dia punya “suara malaikat” yang tenang banget, tapi liriknya tetap terasa jujur dan mendalam. Yuna membuktikan bahwa identitas diri dan hijab bukan penghalang untuk menaklukkan panggung dunia. Kalau musisi Asia Tenggara bisa mendunia tanpa harus ikut-ikutan tren yang membosankan.
Mulai dari sini deh:
“Dan Sebenarnya”: Buat Bujang Dare yang mau dengerin awal mula si “gadis gitar” ini viral.
“Crush” (feat. Usher): Definisi lagu R&B yang super smooth dan bikin pengen mutar ulang.
“Terukir Di Bintang”: Lagu puitis yang nunjukin sisi emosional Yuna yang paling cantik.
“Lullabies”: Lagu paling pas buat nemenin malam Bujang Dare. Entah lagi bengong ataupun ancang-ancang mau tidur.
“Camaraderie”: Nah kalau ini lagu favoritnya editor nih. Karakter suara Yuna bersinar dan lirik yang menohok jiwa. Perpaduan spektakuler.