Diaspora Indonesia di AS Sumbang Alat Medis ke Klinik Pelestari Hutan di Kalimantan

Vina Mubtadi

VOA —  Para pasien di sebuah klinik di pedalaman Kalimantan Barat kini tak perlu lagi melakukan perjalanan berjam-jam ke kota untuk bisa mengetahui fungsi ginjal ataupun kadar kolesterol mereka. Ini berkat donasi peralatan medis bernilai ratusan juta rupiah lewat sebuah proyek yang dipimpin oleh perempuan diaspora Indonesia di AS, yang terpanggil untuk membantu klinik yang mengemban misi kesehatan dan konservasi hutan itu.

Klinik Alam Sehat Lestari (ASRI) di Desa Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, Provinsi Kalimantan Barat, melayani masyarakat dengan cara unik. Para pasien yang tidak mampu, boleh membayar dengan bibit pohon.

Oleh tim ASRI, bibit-bibit pohon itu disemai, dirawat dan ditumbuhkan, lalu ditanam ulang di area reboisasi di sekitar Taman Nasional Gunung Palung.

Direktur Klinik ASRI dr. Maria Puspa Kartika mengatakan bahwa kesehatan dengan kegiatan konservasi hutan merupakan satu hal yang tak dapat dipisahkan.

“Bagaimana manusia bisa sehat kalau alam kita tidak sehat,” ujarnya kepada VOA.

“Begitupun sebaliknya. Kita jika ingin hidup dalam dunia yang sehat, kita harus sehat, dan kita menjadi sehat karena alam kita yang sehat,” ujar Tika yang berbicara dari Desa Sukadana, sekitar 400 kilometer dari ibukota, Pontianak.

Hingga kini, ASRI telah menanami lahan seluas lebih dari 211 hektar, dengan puluhan ribu pohon dari pasien.

Donasi dari Amerika Serikat

Konsep tersebut mengundang perhatian Jasmine Haraburda, seorang asisten medis di negara bagian Massachusetts, AS, yang memiliki darah Indonesia dari ibunya.

“Karena latar belakang ibu saya, saya sangat ingin memberi sumbangsih kepada masyarakat (Indonesia),” ujar lulusan Universitas Case Western Reserve di Ohio tahun 2021 ini kepada VOA.

Pada 2019, ketika masih tercatat sebagai mahasiswi tingkat tiga, Jasmine mengajak teman mahasiswanya Brian Zhang, untuk mengikuti sayembara Davis Project for Peace.

Itu adalah inisiatif di AS yang membagikan dana hibah puluhan ribu dolar kepada proyek-proyek akar rumput yang bertujuan memajukan perdamaian. Mereka ingin menggunakan dana itu untuk membeli peralatan medis untuk Klinik ASRI.

“Kami mengajukan proposal dan mempromosikan misi klinik tersebut, dan komite (“Davis Project for Peace”) ternyata juga menyukai misi mereka,” kata perempuan yang berencana melanjutkan pendidikan dalam bidang kedokteran ini.

Sebagai salah satu pemenang, Jasmine dan Brian mendapat $10.000 atau lebih dari Rp140 juta untuk mewujudkannya. Proyek yang sedianya dijalankan pada 2020 itu, baru terealisasi pada akhir 2021 karena pandemi virus corona.

Dana itu dihabiskan untuk membeli beberapa perangkat medis berbiaya besar, termasuk dental unit, alat monitor pasien, dan spektrofotometer atau alat analisis kimia untuk mengukur fungsi ginjal, hati, kadar kolesterol, dan lain-lain.

“Kami membelinya dari supplier medis, lalu dibantu oleh keluarga (di Indonesia) dan klinik, agar barang-barang itu bisa langsung dikirim ke klinik tersebut,” jelas Jasmine.

Jasmine (kiri) dan Brian menyumbangkan alat medis untuk Klinik ASRI (courtesy).

Tika mengatakan donasi tersebut sangat bermanfaat bagi komunitasnya, yang selama ini harus menempuh perjalanan jauh ke kota yang lebih besar, untuk mendapat pelayanan medis yang lebih kompleks.

“Sangat membantu masyarakat sekitar, bisa mendapat pelayanan yang terjangkau dan akses lebih mudah dari segi perjalanan,” ujar dokter lulusan Universitas Padjajaran Bandung ini.

Ia menambahkan, dengan peralatan yang lebih baru dan canggih, klinik yang memiliki delapan dokter itu kini bisa menangani pasien lebih banyak dan memberi pelayanan lebih cepat.

Jasmine berharap bantuan yang diberikan itu bisa membantu Klinik ASRI untuk terus menyediakan layanan medis berkualitas kepada masyarakat setempat sambil melestarikan hutan.

Selamatkan Manusia, Selamatkan Hutan

Klinik ASRI didirikan pada 2007 oleh seorang dokter AS, Kinari Webb, yang merasa resah melihat banyaknya warga desa melakukan pembalakan liar supaya bisa punya uang untuk berobat.

Selain menerima pembayaran dengan bibit pohon, klinik itu juga menerima pembayaran dengan dedak, kulit telur, kerajinan tangan, dan bahkan kotoran hewan. Jika tak punya itu semua, pasien juga bisa membayar dengan tenaga, menjadi sukarelawan untuk membantu menanam pohon dan menjaga hutan.

Sejak 2018, ASRI membawa kesuksesan program di sekitar Taman Nasional Gunung Palung ke lokasi baru di sekitar kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Kalimantan Barat. [vm/ka]

Recent Posts