Batik Indonesia Unggul karena Kaya Motif dan Simbol-simbol Bermakna


Leonard Triyono

Belum lama ini media di Indonesia ramai memberitakan seorang pebasket NBA, Justin Holiday, yang memborong batik dari Blitar. Berita itu beredar di berbagai platform media sosial, termasuk melalui cuitan di akun Twitter Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno.

VOA berbicara dengan seorang pakar batik dan seorang warga Amerika penggemar berat batik Indonesia, yang sama-sama sepakat bahwa ditelisik dari berbagai segi, batik Indonesia memang unggul dan “tiada duanya.”

“Keunikan dalam proses dan teknik pembuatannya, kejelian dalam kombinasi warna, serta kekayaan motif dan pola dengan simbol-simbol yang kaya makna membuat batik Indonesia sangat unggul,” demikian seperti disampaikan oleh Hartono Sumarsono kepada VOA baru-baru ini.

Abraham Soyem, Mahasiswa S2 School of Business di George Washington University.

Pakar dan kolektor batik ini telah berkeliling nusantara untuk mencari batik, yang menurutnya merupakan bentuk karya seni visual. Dari pengembaraannya sejak tahun 1983, dia telah mengoleksi ribuan kain batik, dan dari koleksi itu dia telah menerbitkan lima buku.

Hartono, yang menerima penghargaan Upakarti 2011 untuk jasa pengabdian pada industri batik dan batik lawas, mengatakan bahwa ciri lain dari batik Indonesia adalah sifat etnisnya, dan bahwa tiap daerah di Indonesia memiliki ciri khasnya masing-masing. “Karena berbagai keunikan dan kehebatan batik Indonesia itulah, orang asing perlu dan patut meminatinya,” tambahnya.

Senada dengan pendapat itu, Stanley Harsha, mantan diplomat Amerika di Jakarta yang mengaku tetap “cinta Indonesia, cinta orang Indonsia, dan cinta batik Indonesia,” mengatakan bahwa “batik punya motif-motif yang sangat khas, yang sangat serasi dengan warna-warna yang sangat bagus” sehingga memang seperti karya seni untuk dikenakan dan juga untuk dipajang.

Mengomentari soal minat Justin Holiday pada batik Blitar, diplomat yang pernah menerbitkan buku “Seperti Bulan dan Matahari: Indonesia dalam Catatan Seorang Diplomat Amerika” itu berpendapat bahwa itu mungkin sesuai kepribadian pebasket yang telah bermain untuk berbagai klub NBA dan kini bergabung dengan Sacramento Kings tersebut.

“Orang seperti Justin Holiday, mungkin karena pemain basket (dan) orangnya sangat ekspresif, maka dia suka batik seperti batik Blitar atau batik tambal karena itu mungkin mengekspresikan personalitas dia sendiri,” ujar Stanley.

Hartono setuju dengan pendapat Stanley itu, dan menambahkan bahwa orang asing, termasuk Justin Holiday, meminati batik Indonesia karena adanya ketertarikan pada unsur etnis dan budaya.

“Mungkin karena batik itu kan etnis ya, jadi sesuatu yang lain dengan daerah lain. Mungkin yang namanya Justin itu orang yang senang dengan sesuatu yang berbeda, yang eksotik. Nah ketika dia pesan kepada si pembatik di Blitar, dia minta yang ada unsur budayanya. Kuda lumping, misalnya, ditaruh di sana, juga gerbang makamnya Bung Karno. Unsur budaya ada di sana. Mengenai pewarnaan, (batik) Blitar juga seperti (batik) Pekalongan warnanya cerah. Saya rasa, Justin senang dengan unsur budayanya atau yang eksotis. Contohnya, lihat ini (ditunjukkan contoh kain batik bermotif kuda lumping seperti yang dibeli oleh Justin), saya kira setiap orang juga akan senang melihat ini, bukan hanya Justin, karena batik kita itu luar biasa bagusnya.”

Hartono berpendapat, jika Justin melihat batik dari daerah-daerah lain maka dia akan menyukainya juga.

“Justin andaikata dia melihat batik Solo pun dia akan suka, batik Cirebon juga akan suka ya karena memang batik punya ciri sendiri-sendiri seperti pak Stanley katakan, batik adalah sesuatu yang ada budayanya, bukan hanya sekedar pakaian, tetapi sesuatu yang betul-betul menarik bagi orang asing,” imbuhnya.

Sebagai orang asing, Stanley mengaku suka baju-baju batik karena “sangat enak dan indah” dipakai.

“Saya suka batik karena sangat enak dipakainya, itu sangat santai dipakainya. Kalau di Indonesia tidak terlalu panas, (batik) bisa dipakai secara informal atau secara formal. Kalau di Amerika, kalau ada orang Amerika yang pakai batik, itu karena sesuatu yang sangat, sangat indah. Oleh karena itu, batik lebih dari (sekedar) kemeja, itu seperti kesenian. Jadi, saya pikir itu sebabnya orang Amerika yang suka batik, apalagi kalau di daerah pantai.”

Stanley mengakui bahwa di belahan bumi dengan empat musim seperti Amerika memang sulit menggunakan batik sebagai pakaian sepanjang tahun. Namun demikian, dia mengatakan bahwa batik bisa dipakai pada musim semi dan musim panas ketika warga berkesempatan memakai pakaian yang tipis dengan warna-warna cerah dan detil desain yang khas, serta motif-motif yang unik.

Berbicara lebih jauh mengenai batik yang telah diakui sebagai “Warisan Budaya Takbenda” (Intangible Cultural Heritage) oleh UNESCO dan secara internasional diakui sebagai bagian jalinan sejarah peradaban manusia, Hartono mengatakan bahwa ketertarikannya berawal ketika dia “hunting” keramik China di sebuah pasar antik di Jakarta.

“Saya orangnya senang keindahan, barang-barang indah atau barang seperti batik. Tahun 1983 saya sering beli keramik China di Jalan Surabaya, dan saya mendengar para pedagang di sana, orang Minang, mengatakan bahwa ‘batiknya itu bagus-bagus dan dibawa oleh orang-orang mancanegara’ dan mereka bilang ‘sekali waktu nanti batik bagus tidak ada lagi di Indonesia.’ Wah, rasanya prihatin juga ya. Makanya sejak itu saya mencari batik. Yang namanya Hartono kalau sudah mencari ya begitulah,” akunya.

Dari pencarian di berbagai pelosok Indonesia itu dia telah mengoleksi lebih dari 2000 batik dari seluruh daerah Indonesia. Batik, ujarnya, sebenarnya tidak hanya dibuat di Jawa, tetapi juga di luar Jawa, walaupun dia juga mengakui bahwa di beberapa daerah pembatiknya didatangkan dari Jawa, utamanya dari Cirebon dan Pekalongan.

Dari koleksinya, Hartono mengaku “sulit menentukan mana yang menjadi favorit karena kalau kita perlihatkan batik (dari koleksinya) itu semua bagus. Namun, dia mengatakan memang ada yang menonjol, “batik dari Cirebon yang sangat langka dan itu penuh dengan makna dari motif-motif dari hewan-hewan bermacam-macam yang merupakan simbol-simbol. Itu yang mungkin jarang sekali (ditemukan) di dunia.”

Sementara itu, Stanley menambahkan bahwa menurutnya batik Indonesia dan khususnya batik Jawa, tidak punya saingan karena kekhasannya.

“China dan Malaysia tidak bisa membuat yang seperti Indonesia, berbeda batiknya. Untuk mempromosikan batik di luar negeri mestinya mempromosikan prosesnya, prosesnya yang sangat unik, pokoknya tekniknya, simbolisme dan budaya yang terkait dengan batik. Apalagi batik Indonesia adalah yang paling cantik. Jadi, Malaysia, China dan negara-negara lain tidak bisa bersaing.”

Sebagai pemburu batik, termasuk di luar negeri, Hartono membenarkan pendapat itu. Walaupun hingga sekarang asal batik belum diketahui secara pasti, tetapi menurutnya, “yang utama adalah (fakta) bahwa batik yang terbagus itu dari Indonesia, terutama pengerjaannya.”

“Saya pernah ke China, lihat batik China itu hanya biru dengan putih, simpel seperti itu. Ya menarik tapi jauh sekali cara pengerjaannya. Seperti yang tadi saya perlihatkan, kuda lumping tadi, itu dikerjakan lima bulan. Jadi batik Indonesia itu luar biasa bagusnya,” tukasnya.

Stanley menambahkan bahwa selama ini batik berpotensi besar menjadi komoditi yang mendatangkan devisa sekaligus sebagai sarana promosi seni-budaya bagi Indonesia. Menurutnya, batik memang sudah menjadi mode tinggi (haute couture), tetapi batik seharusnya juga diperkenalkan ke rakyat biasa dengan harga terjangkau.

“Sekarang, di luar negeri, sudah ada batik di Gucci, Versace, yang harganya beribu-ribu dolar karena sudah menjadi fashion yang sangat tinggi, tetapi kita tidak melihat batik di toko untuk rakyat kecil seperti di Macy’s atau Target. Jadi saya harap ada pengusaha Amerika atau toko departemen yang bisa bekerja sama dengan pengusaha Indonesia supaya (batik) bisa sampai pada rakyat kecil dan itu bisa dipromosikan oleh Target sendiri,” pungkas Stanley. [lt/em]

Recent Posts