Oleh: JAKA PRAKASA
OPINI
Algoritma emang canggih, tapi tanpa sadar, kita malah tersandera olehnya. Belum lagi asumsi-asumsi yang sulit dibuktikan namun dirasakan, bahwasanya algoritma memiliki agenda komersil sendiri.
Saya cukup beruntung dibesarkan di era peralihan. Dari bertukar kaset kompilasi C-90 hingga USB 32MB berisikan lagu-lagu rekomendasi sesama penikmat musik. Forum musik berbagi link ilegal dari megaupload atau mediafire adalah proses dalam menemukan “my next favorite artist”.
Kini, konon, algoritma dapat membantu. Tapi dari pengalaman pribadi, kita seakan digiring ke dalam kotak yang dianggap trendy, hip, keren nan viral. I need more. I need to shape my own taste.
Justru rekomendasi dari teman & sesama penggemar musik seringkali lebih akurat
✨ lebih nyambung sama selera.
✨ ada cerita dibalik rekomendasi tersebut.
✨ bisa ngenalin kita ke pool genre yang baru.
Algoritma boleh bantu, tapi buat saya, teman & komunitas tetap jadi kurator musik terbaik.
Dan tentunya kurasi musik di @radiovolare 😎
👉 Jadi, siapa teman Bujang Dare yang paling jago kasih rekomendasi musik? Tag dia di sini!
Kalo saya dari dulu selalu terbantu dengan kurasi @deathrockstar. Cocok dengan selera 🙏😁