Oleh: MinBae @noisybae
Dibesarkan di kultur hip hop Pontianak, Bagus Rankillz bukan nama yang tiba-tiba muncul. Perjalanannya udah dimulai sejak 2011, waktu masih kelas 3 SMP. Ikut lomba rap, bawa lagu ciptaan sendiri berjudul Go Green dengan beat J-Funk, dan langsung tembus 8 besar. Early sign kalau ini bukan main-main.
Fun fact: sebelum pegang mic, Bagus lebih dulu dikenal sebagai B-Boy. Bahkan setelah debut rap-nya, dia sempat vakum dan balik lagi ke dance floor. Tapi ya namanya darah hip hop, gak bisa jauh-jauh dari karya.
Ngomongin nama, “Rankillz” bukan sekadar pilihan estetik. Di kultur hip hop, nama itu dikasih, bukan milih. Dari Jee Killaz, yang awalnya malah ngebaptis dia jadi Bagus Rolling Killz gara-gara lagi ngeguluny adonan kroket (iya, serius). Karena dianggap kurang catchy dan enak di lafalkan akhirnya dirombak jadi Bagus Rankillz.
Sebagai adik dari Lil Junk Smit, pressure jelas ada. Tapi Bagus punya jalannya sendiri. Aktif di kolektif dan grup bukan berarti lupa satu hal penting: sebagai solois, karya adalah segalanya. Itu juga yang jadi trigger utama dia ngerjain album.
Dari obrolan kemarin, satu insight yang nempel: jadi rapper itu soal literasi. Banyak baca, apapun. Dari buku,koran, artikel sampai kamus. Karena kata adalah senjata.
Di project solonya, Bagus udah ngerilis dua single: Berharap dan Lose Love. Khusus Lose Love, ceritanya relate—tentang diputusin, terus diajak balikan lagi, tapi dengan tegas bilang: “udah gak mau lagi.” Straightforward, no drama.
Sekarang? Dia lagi masak album dengan total 17 track. Nama-nama kayak Sam Carlost dan Pablo juga ikut terlibat. Kalau diliat dari prosesnya, ini bukan cuma album, ini resume perjalanan.
Simak AMPLITUDO live setiap Senin, pukul 7-9 malam!
- streaming: volarefm.com
- Instagram & TikTok @radiovolare