Adaptasi Jurnalistik dan Public Relations di Era AI: HIMAKOM UNTAN Sukses Gelar Kuliah Bareng Praktisi 2026

PONTIANAK – Perkembangan pesat teknologi Artificial Intelligence (AI) kini merambah ke berbagai lini industri, tidak terkecuali dunia komunikasi. Merespons fenomena tersebut, Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HIMAKOM) Universitas Tanjungpura (UNTAN) kembali menggelar agenda tahunan bergengsi, Kuliah Bareng Praktisi (KBP) 2026, pada Selasa (12/5/2026) lalu.

Mengusung tema “Adaptasi Jurnalistik dan Public Relations di Era Artificial Intelligence (AI)”, kegiatan yang berlangsung di aula Rumah Dinas Wakil Walikota Pontianak ini mendapatkan dukungan penuh dari Walikota Pontianak, Ir. H. Edi Rusdi Kamtono, M.M., M.T.. Sebanyak 133 mahasiswa dari berbagai program studi tampak antusias memadati ruangan untuk membedah tantangan dan peluang komunikasi di masa depan.

Dosen Ilmu Komunikasi UNTAN, Suci Lukitowati, SP, MA, yang hadir mewakili Koordinator Program Studi, dalam sambutannya menyampaikan bahwa KBP merupakan komitmen prodi yang sudah berjalan lebih dari satu dekade.

“KBP dinilai sebagai salah satu upaya program studi untuk mempersiapkan mahasiswa menghadapi pengalaman belajar yang kompleks, baik secara praktik di lapangan maupun secara keilmuan,” ujarnya.

Evolusi Ruang Redaksi: Dari Mesin Ketik ke Algoritma

Memasuki sesi materi pertama, praktisi jurnalistik senior yang juga merupakan Koresponden LKBN Antara sekaligus Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) periode 2023–2026, Rendra Oxtora, memaparkan sejarah panjang evolusi ruang redaksi.

Rendra menceritakan bagaimana lambatnya kerja jurnalistik pada era 1950-an yang masih mengandalkan mesin tik, bertransisi ke komputer di era 1990-an, hingga kini di era kecerdasan buatan di mana jurnalis bisa melakukan semuanya lewat satu ponsel pintar.

Ia tidak menampik bahwa kehadiran kecerdasan buatan (AI)—seperti munculnya presenter virtual—sempat memicu kekhawatiran akan hilangnya peran manusia. Namun, Rendra menegaskan bahwa AI bukanlah musuh para jurnalis.

“AI tidak bertentangan dengan jurnalistik selama penggunaannya tidak dilakukan secara mentah tanpa verifikasi,” tegas Rendra. Ia juga mencontohkan bagaimana fitur sound-to-script sangat membantu efisiensi jurnalis dalam mengubah hasil rekaman wawancara menjadi teks.

Meski begitu, ia mengingatkan tantangan besar di balik AI, seperti risiko hoaks, bias informasi, hingga ketergantungan yang mengikis berpikir kritis. “Fondasi utama jurnalistik tetap berada pada etika. Berita harus akurat, berimbang, dan tidak beriktikad buruk,” tambahnya.

Transformasi PR: Membangun Kepercayaan di Dunia Digital

Tantangan serupa juga dihadapi oleh dunia Public Relations (PR). Mentarie Resthu Putri, S.Si., praktisi content creatordan video editor dari Humas Dinas Komunikasi dan Informatika (DISKOMINFO) Kota Pontianak, menjelaskan bagaimana PR bertransformasi dari gaya lama komunikasi satu arah menjadi komunikasi yang responsif, cepat, dan berbasis data.

Di dunia kerja PR saat ini, AI seperti ChatGPT dan Gemini sudah lazim digunakan untuk membantu proses brainstorming ide konten, mendesain, hingga menyusun caption media sosial. Namun, Mentarie mengingatkan adanya koridor hukum dan etika yang membatasi, seperti UU ITE No. 1 Tahun 2024, UU Perlindungan Data Pribadi No. 27 Tahun 2022, hingga SE Menkominfo No. 9 Tahun 2023.

“Di era kecerdasan buatan, teknologi mungkin mampu mempercepat komunikasi, tetapi kepercayaan tetap dibangun oleh manusia. Masa depan kehumasan bukan tentang memilih antara AI atau manusia, melainkan bagaimana keduanya berjalan berdampingan secara cerdas, etis, dan bermakna,” pungkas Mentarie.

Menantang Mahasiswa Lewat Studi Kasus Interaktif

Tidak hanya mendengarkan teori, antusiasme peserta semakin memuncak saat memasuki sesi games berupa studi kasus interaktif. Di sini, mahasiswa ditantang untuk langsung mempraktikkan penggunaan AI secara bijak dalam menyusun press release dan berita secara kritis dan kreatif.

Esra, salah satu peserta KBP, mengungkapkan kesannya terhadap acara ini. “Sesi studi kasus di akhir kegiatan cukup menantang. Kami diperbolehkan menggunakan AI sebagai alat bantu, dan ini melatih kami memahami bahwa AI boleh membantu pekerjaan, tetapi tetap ada batasnya dan tidak bisa menggantikan pemikiran diri sendiri,” ungkapnya.

Melalui KBP 2026, HIMAKOM UNTAN berharap lulusan ilmu komunikasi masa depan tidak hanya menjadi sarjana yang gagap teknologi, melainkan menjadi profesional yang siap adaptif, beretika, dan mampu menjawab kebutuhan industri komunikasi global.