Oleh: JAKA PRAKASA
OPINI
Akibat menguping deeptalk antara @sirpanji dan @alcassssstadi malam, membahas kehidupan skena duniawi, jadi kepikiran juga
“Seberapa lama band favorit lo bisa bertahan di Pontianak?” – Panji berkata pada Aldiman. Aldiman terdiam dan mengisap dalam kreteknya. “Aku pun nda tau Ji”. No one knows. Karena market dan consumer behaviour di Pontianak masih gelap.
Panggung ibarat pit stop bagi musisi untuk mengisi tangki kreativitas. Layaknya bensin, feedback dan antusiasme penonton menjadi harapan semoga menambah panjang mileage karir mereka.
Kadang kita lupa, skena itu bukan cuma soal siapa yang ada di atas panggung, tapi juga siapa yang rela berdiri di bawahnya. Dukungan kecil, teriakan, sing along, beli merch, bahkan sekadar hadir, bisa jadi bahan bakar yang menentukan apakah band itu cuma sekilas lewat atau bisa bertahan lebih lama di lintasan.
Sebelum tulisan ini masuk ke teritori cringe lebih baik segera diakhiri. Cuman ingin berbagi sebuah realisasi yang saya rasakan sepulang gigs malam tadi bahwasanya umur band favorit kita di Pontianak, bisa jadi tergantung sama seberapa kuat kita mau jadi bagian dari cerita mereka.
————————————————————-
Sepanjang eksistensi @lets.danzas, saya cuman melewatkan 4 panggung mereka. Termasuk dua kali di @kosongkosongofficial. Alhamdulillah akhirnya kemarin bisa menonton mereka di panggung besar.
Kok sehè? Karena saya suka musik mereka. Dan saya terhibur. Itu sudah cukup untuk berkendara menuju venue dan nonton. Music is personal, as it should be. So shape your taste.
Like / Share / Purchase
✔️Apresiasi karya
✔️ Bagikan dan rekomendasikan
✔️ Hadiri gigs dan miliki merchandise